Model Pembelajaran Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Model Pembelajaran Collaborative Learning dan Cooperative Learning
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Guru sebagai agen peru bahan dalam proses pembelajaran dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogic. Tercapainya kompetensi ini ditujukan dengan beberapa indicator antara lain menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik serta mengembangkan kurikulum terkait mata pelajaran yang diampunya. Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi seorang pendidik untuk memahami konsep-konsep pmbelajaran. Konsep pembelajaran yang diketahui oleh guru selanjutnya digunakan sebagai landasan untuk mengembangkan proses pembelajaran mereka.
Menggunakan metode ceramah dalam praktek pembelajaran di kelas, seringkali tak dapat dihindari oleh para guru. Selain itu, penggunaan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran saat ini pun banyak di implementasikan oleh para guru. Diskusi kelompok dalam hal ini guru mengkondisikan para siswa untuk bekerjasama menyelesaikan suatu tugas yang disebut Collaborative Learning. Strategi ini digunakan oleh para guru dengan maksud meningkatkan keaktifan belajar para siswa melalui kerja sama di dalam kelas. Dengan kata lain penggunaan kerja sama (Collaborative Learning dan Cooperative Learning) dalam pembelajaran dapat dikatakan pula sebagai sarana penerapan nilai kerjasama atau kekompakan dalam pendidikan karakter dan budaya bangsa.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Hakekat Model Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning ?
2. Bagaimana Metode-metode dalam Coollaborative Learning dan Cooperative Learning ?
3. Bagaimana Strategi pembelajaran Coollaborative Learning dan Cooperative Learning ?
4. Bagaimana Relevansi Model Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam?
C. Tujuan Penulisan
1. Agar mengetahui Hakekat Model Pembelajaran Collaborative Learning dan Cooperative Learning
2. Agar mengetahui Metode-Metode dalam Coollaborative Learning dan Cooperative Learning
3. Agar mengetahui Strategi Pembelajaran Collaborative Learning dan Cooperative Learning
4. Agar Mengetahui Relevansi Model Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakekat Model Pembelajaran Collaborative Learning dan Cooperative Learning
1. Hakekat Collaborative Learning
Dalam sebuah artikelnya Ted Panitz (1996) menjelaskanbahwa pembelajaran kolaboratif adalah suatu filsafat personal, bukan sekedar teknik pembelajaran di kelas. Menurutnya, kolaborasi adalah filsafat interaksi dan gaya hidup yang menjadikan kerjasama sebagai suatu struktur interaksi yang dirancang sedemikian rupa guna memudahkan usaha kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Pada segala situasi, ketika sejumlah orang berada dalam suatu kelompok, kolaborasi merupakan suatu cara untuk berhubungan setiap anggota kelompok. Di dalamnya terdapat pembagian kewenangan dan penerimaan tanggung jawab di antara para anggota kelompok untuk melaksanakan tindakan kelompok.
Gokhale mendefinisikan bahwa “Collaborative learning” mengacu pada metode pengajaran di mana siswa dalam satu kelompok yang bervariasi tingkat kecakapannya bekerja sama dalam kelompok kecil yang mengarah pada tujuan bersama.
Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai tekhnologi untuk pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimalisasi perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan bertemu, yaitu :
a) Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata;
b) Menumbuhkan kesadaran berinteraksi social dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.
Ide pemblajaran kolaboratif bermula dari perspektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah buku “Democracy and Education”yang isinya bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Pemikiran Dewey yang utama tentang pendidikan (Jacob et al, 1996), adalah :
a) Siswa hendaknya aktif, learning by doing
b) Belajar hendaknya didasari motivasi intrinsik
c) Pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat tetap
d) Kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa
e) Pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur demokratis sangat penting.
f) Kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata dan bertujuan mengembangkan dunia tersebut.
Pembelajaran kolaboratif merujuk pada berbagai macam metode pembelajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pelajaran. Model pembelajaran ini mengetengahkan realita kehidupan masyarakat yang dirasakan dan dialami oleh siswa dalam kesehariannya, dengan bentuk yang disederhanakan dalam kehidupan kelas. Model pembelajaran ini memandang bahwa pemahaman materi dalam belajar bukan semata-mata harus diperoleh dari guru melainkan juga dari pihak siswa yang terlibat dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran ini termasuk kepada actieve learning dan student centreddimana peserta didik memiliki ruang bersama untuk berbagi melakukan gesekan-transformasi ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan peserta didik yang lain.
2. Hakekat Cooperative Learning
Slavin(1991:73) mendefinisikan “Cooperative learning methods share the idea that students work together ti learn and are responsible for one another’s learning as well as their own”yang artinya merode pembelajaran koperatif yakni berbagi gagasan sehingga siswa bekerja sama untuk belajar dan bertganggung jawab satu sama lain belajar sebaik mereka sendiri”
Selain Cohen (1994:3) mengatakan sebagai berikut: “Cooperative learning will be defined as student working together in a group small enough that everyone can participate on collective tas wihout direct and immediate supervision of the teacher”artinya pembelajaran kooperatif didefinisikan sebagai siswa yang bekerja sama dalam kelompok kecil sehingga setiap orang dapat berpartisipasi dalam tugas kolektif yang telah ada jelas ditugaskan. Selain itu, siswa diharapkan untuk melaksanakan tugas mereka tanpa pengawasan langsung dan langsung dari guru”.
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning)Rusman (2016:203) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Pada hakikatnya cooperative learningsama dengan kerja kelompok. Oleh karena itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam cooperative learning karena mereka beranggapan telah biasa melakukan pembelajaran cooperative learning dalam bentuk belajar kelompok. Walaupun sebenarnya tidak semua belajar kelompok dikatakan cooperative learning, seperti dijelaskan Abdulhak (2001:19-20) bahwa “pembelajaran cooperative dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama diantara peserta belajar itu sendiri.”
Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dan siswa, siswa dengan siswa dan siswa denga guru (multi way traffic communication).
Pembelajaran cooperative adalah srtategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati, 2002:25). Dalam system belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama denga anggota lainnya. Dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar.
Jhon Myers(1991) merujuk pada kamus untuk menjelaskan definisi collaboration yang berasal dari akar kata Latin dengan makna yang menitikberatkan proses kerjasama sedangkan kata cooperative berfokus pada produk kerjasamanya itu.
Jelaslah bahwa pembelajaran kolaboratif lebih dari pada sekedar kooperatif. Jika pembelajaran kooperatif merupakan teknik untuk mencapai hasil tertentu secara lebih cepat, lebih baik, setiap orang mengerjakan bagian yang lebih sedikit dibandingkan jika semua dikerjakannya sendiri, maka pembelajaran kolaboratif mencakup keseluruhan proses pembelajaran, siswa saling mengajar sesamanya. Bahkan bukan tidak mungkin, ada kalanya siswa mengajar gurunya juga.
Pembelajaran kolaboratif memudahkan para siswa belajar dan bekerja bersama, saling menyumbangkan pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara kelompok maupun individu. Berbeda dengan pembelajaran konvensional, tekanan utama pembelajaran kolaboratif maupun kooperatif adalah “belajar bersama”.
Tetapi dalam perspektif ini tidak semua “belajar bersama” dapat digolongkan sebagai belajar kooperatif, apalagi kolaboratif. Bila para siswa di dalam suatu pencapaian hasil belajar secara kelompok maupun individu kelompok itu tak dapat digolongkan sebagai kelompok pembelajaran kolaboratif. Kelompok itu mungkin merupakan kelompok pembelajaran kooperatif atau bahkan sekadar belajar bersama-sama. Inti pembelajaran kolaboratif adalah bahwa para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Antar anggota kelompok saling belajar dan membelajarkan untuk mencapai tujuan bersama.keberhasilan kelompok adalah keberhasilan individu dan demikian pula sebaliknya.
B. Metode- metode Dalam Pembelajaran Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Jika dilihat dari kerangka kerja pengajaran, model pembelajaran Kolaboratif dan Koperatif termasuk kedalam model pembelajaran interaksi sosial yang lebih menitikberatkan pada kerjasama dengan anggota pembelajar yang lainnya.
Metode pembelajaran merupakan suatu cara yang digunakan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat berbagai metode yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Guru harus memahami berbagai metode pembelajaran agar guru dapat memilih dan menggunakan metode yang tepat sesuai dengan materi dan tujuan pembelajarannya. Adapun metode yang dapat digunakan dalam model pembelajaran ini diantaranya:
1. Diskusi
Diskusi merupakan komunikasi seseorang berbicara satu dengan yang lain, saling berbagi gagasan dan pendapat. Menurut Suryosubroto (1997:179), adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang bergabung dalam suatu kelompok, untuk saling bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah. Metode diskusi mendorong siswa untuk berdialog dan bertukar pendapat, dengan tujuan agar siswa dapat terdorong untuk berpartisipasi secara optimal, tanpa ada aturan-aturan yang terlalu keras, namun tetap harus mengikuti etika yang disepakati bersama.
2. Debat
Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil pro dan dua orang mengambil kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.
Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.
Pada dasarnya, agar semua model brhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap yang diharapkan pembelajran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung untuk menyelesaikan tugas. Keterampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok.
3. Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
4. Cooperative learning
Menurut Agus Suprijono (2011:54), “Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru”. Beberapa keuntungannya antara lain : mengajarkan siswa menjadi percaya pada guru, kemampuan untuk berfikir, mencari informasi dari sumber lain dan belajar dari siswa lain, mendorong siswa untuk mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan dengan ide temannya, dan membantu siswa belajar menghormati siswa yang pintar dan siswa yang lemah, juga menerima perbedaan ini.
5. Kelompok Tutorial
Metode Tutorial adalah suatu proses pengelolaan pembelajaran yang dilakukan melalui proses bimbingan yang diberikan /dilakukan oleh guru kepada siswa baik secar perorangan atau kelompok kecil siswa. Metode ini banyak sekali digunakan, khususnya pada saat siswa sudah terlibat dalam kerja kelompok.
Tutorial juga merupakan bantuan bimbingan belajar yang bersifat akademik oleh tutor kepada siswa untuk membantu kelancaran proses belajar mandiri siswa secara perseorangan atau kelompok berkaitan dengan materi ajar.
6. Bermain Peran (Role Playing)
Bermain peran atau sosiodrama adalah metode mengajar yang dalam pelaksanaanya peserta didik mendapat tugas dari guru untuk mendramatisasikan suatu situasi social yang mengandung suatu problem, agar peserta didik dapat memecahkan masalah yang muncul dari suatu situasi social (Sagala, 2010:213)
Senada dengna Sagala, Huda (2014:209) berpendapat bahwa, role playingadalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankan diri sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini biasanya dilakukan oleh lebih dari satu orang, bergantung pada apa yang diperankan. Pada strategi role playing, titik tekannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indra ke dalam suatu situasi permasalahan yang secara nyata dihadapi. Siswa diperlakukan sebagai subjek pembelajaran yang secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu.
Strategi role playing juga diorganisasikan berdasarkan kelompok-kelompok siswa yang heterogen. Masing-masing kelompok memperagakan/menampilkan scenario yang telah disiapkan guru, siswa diberi kebebasan berimprovisasi namun masih dalam batas-batas scenario dari guru.
7. Wawancara
Metode Interview atau wawancara dalam proses pembelajaran seringkali disebut dengan metode wawancara. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, wawancara merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawanaacara adalah untuk mendapatkan informasi dimana sang pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai.
Namun, metode interview dalam pembelajaran berbeda dengan metode interview sebagai instrumen penelitian. Di dalam pembelajaran, sebelum memberikan pertanyaan, terlebih dahulu guru menyampaikan isu yang dapat memunculkan beragam opini. Sehingga murid dapat menggali dan menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan dari opini tersebut. Metode ini termasuk dalam model pembelajaran Koopratif.
8. Tanya Jawab
Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, atau dapat pula dari siswa kepada guru atau bahkan dari siswa kepada siswa seperti dalam kegiatan diskusi. Metode Tanya jawab menawarkan keterampilan dalam mengkaji problem pendidikan dengan cara diskusi sebagai solusi menghidupkan proses pembelajaran.
C. Strategi Pembelajaran Dalam Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan menurut Gerlach dan Ely menjelaskan bahwa srtategi pembelajran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa srtategi pembelajaran dimaksud meliputi; sifat, lingkup, dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik.
Adapun secara umum strategi pengajaran terbagi menjadi 5 macam diantaranya;
1. Pembelajaran Langsung (direct instruction)
2. Pembelajaran Tidak Langsung (indirect instruction)
3. Pembelajaran Interaktif (interactive instruction)
4. Belajar Melalui Pengalaman (experiential learning)
5. Belajar Mandiri (independent study)
Model pembelajaran collaborative learning dan cooperative learning termasuk kedalam strategi pembelajaran interaktif dimana dalam strategi ini merujuk kepada bentuk diskusi dan saling berbagi diantara peserta didik, strategi pembelajaran interaktif dikembangkan dalam rentang pengelompokkan dan metode-metode interaktif, serta di dalamnya terdapat bentuk-bentuk diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau pengerjaan tugas berkelompok, dan kerjasama siswa secara berpasangan.
Menurut Piaget dan Vigotsky, strategi pembelajaran kolaboratif didukung oleh adanya tiga teori, yaitu :
1. Teori Kognitif
Teori ini berkkaitan dengan terjadinya pertukaran konsep antar anggota kelompok pada pembelajaran kolaboratif sehingga dalam suatu kelompok akan terjadi proses trfansformasi ilmu pengetahuan pada setiap anggota.
2. Teori Konstruktivisme Sosial
Pada teori ini terlihat adanya interaksi antar anggota yang akan membantu perkembangan individu dan meningkatkan sikap saling menghormati pendapat semua anggota kelompok.
3. Teori Motivasi
Teori ini teraplikasi dalam struktur pemebelajaran kolaboratif karena pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif bagi siswa untuk belajar, menambah keberanian anggota untuk memberi pendapat, dan menciptakan situasi saling memerlukan pada seluruh anggota dalam kelompok.
Menurut Piaget Salah satu contoh strategi pembelajaran kolaboratif adalah card sort. Strategi ini digunakan untuk mengjarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang obyek, atau mengulangi informasi. Prosedurnya sebagai berikut :
1. Berilah siswa kartu indeks yang memberikan informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
2. Mintalah siswa untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan kategori yang sama.
3. Biarkan siswa yang kartu kategorinya sama menyajikan sendiri kepada yang lainnya.
4. Selagi masing-masing kategori dipresentasikan, buatlah point dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.
D. Macam-Macam Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:
1. Learning Together
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
2. Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
3. Group Investigation (GI)
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
4. Academic-Constructive Controversy (AC)
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
5. Jigsaw Proscedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
6. Student Team Achievement Divisions (STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
7. Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
8. Team Accelerated Instruction (TAI)
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
9. Cooperative Learning Stuctures (CLS)
Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
10. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.
E. Keterampilan dalam Collaborative Learning dan Cooperative Learning
1. Pembentukan kelompok
2. Bekerja dalam satu kelompok
3. Pemecahan masalah kelompok
4. Manajemen perbedaan kelompok
F. Tahapan dalam Mengembangkan Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Menurut Reid (2004) dalam menggembangkan collaborative learning ada lima tahapan yang harus dilakukan, yaitu:
1. Engagement
Pada tahap ini, pengajar melakukan penilaian terhadap kemampuan, minat, bakat dan kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Lalu, siswa dikelompokkan yang di dalamnya terdapat siswa terpandai, siswa sedang, dan siswa yang rendah prestasinya.
2. Exploration
Setelah dilakukan pengelompokkan, lalu pengajar mulai memberi tugas, misalnya dengan memberi permasalahan agar dipecahkan oleh kelompok tersebut. Dengan masalah yang diperoleh, semua anggota kelompok harus berusaha untuk menyumbangkan kemampuan berupa ilmu, pendapat ataupun gagasannya.
3. Transformation
Dari perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa, lalu setiap anggota saling bertukar pikiran dan melakukan diskusi kelompok. Dengan begitu, siswa yang semula mempunyai prestasi rendah, lama kelamaan akan dapat menaikkan prestasinya karena adanya proses transformasi dari siswa yang memiliki prestasi tinggi kepada siswa yang prestasinya rendah.
4. Presentation
Setelah selesai melakukan diskusi dan menyusun laporan, lalu setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Pada saat salah satu kelompok melakukan presentasi, maka kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi.
5. Reflection
Setelah selesai melakukan presentasi, lalu terjadi proses Tanya-jawab antar kelompok. Kelompok yang melakukan presentasi akan menerima pertanyaan, tanggapan ataupun sanggahan dari kelompok lain. Dengan pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain, anggota kelompok harus bekerjasama secara kompak untuk menanggapi dengan baik.
G. Elemen Dalam Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Brandt (2004) menekankan adanya lima elemen dasar yang dibutuhkan agar kerjasama dalam proses pembelajaran dapat sukses, yaitu :
1. Possitive interdependence (saling ketergantungan positif)
Yaitu siswa harus percaya bahwa mereka adalah proses belajar bersama dan mereka peduli pada belajar siswa yang lain. Dalam pembelajaran ini setiap siswa harus merasa bahwa ia bergantung secara positif dan terikat dengan antarsesama anggota kelompoknya dengan tanggung jawab menguasai bahan pelajaran dan memastikan bahwa semua anggota kelompoknya pun menguasainya. Mereka merasa tidak akan sukses bila siswa lain juga tidak sukses.
2. Verbal, face to face interaction (interaksi langsung antar siswa)
Yaitu hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan adanya komunikasi verbal antarsiswa yang didukung oleh saling ketergantungan positif. Siswa harus saling berhadapan dan saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar. Siswa juga harus menjelaskan, berargumen, elaborasi, dan terikat terhadap apa yang mereka pelajari sekarang untuk mengikat apa yang mereka pelajari sebelumnya.
3. Individual accountability (pertanggungjawaban individu)
Yaitu setiap kelompok harus realis bahwa mereka harus belajar. Agar dalam suatu kelompok siswa dapat menyumbang, mendukung dan membantu satu sama lain, setiap siswa dituntut harus menguasai materi yang dijadikan pokok bahasan. Dengan demikian setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari pokok bahasan dan bertanggung jawab pula terhadap hasil belajar kelompok.
4. Social skills (keterampilan berkolaborasi)
Yaitu keterampilan sosial siswa sangat penting dalam pembelajaran. Siswa dituntut mempunyai keterampilan berkolaborasi, sehingga dalam kelompok tercipta interaksi yang dinamis untuk saling belajar dan membelajarkan sebagai bagian dari proses belajar kolaboratif. Siswa harus belajar dan diajar kepemimpian, komunikasi, kepercayaan, membangun dan keterampilan dalam memecahkan konflik.
5. Group processing (keefektifan proses kelompok)
Yaitu kelompok harus mampu menilai kebaikan apa yang mereka kerjakan secara bersama dan bagaimana mereka dapat melakukan secara lebih baik. Siswa memproses keefektifan kelompok belajarnya dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak serta membuat keputusan-keputusan tindakan yang dapat dilanjutkan atau yang perlu diubah.
H. Pola Pengelompokkan Dalam Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Tiga pola pengelompokkan, yaitu:
1. The two-person group (tutoring)
Yaitu satu orang ditugasi mengajar yang lain. Jadi, siswa dapat berperan sebagai pengajar yang disebut tutor, sedangkan siswa yang lain disebut tutee.
2. The small group (interactive recitation; discussion)
Adalah cara penyampaian baha pelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan masalah.
3. Small or large group (recitation)
Yaitu suatu metode mengajar dan pengajar memberikan tugas untuk mempelajari sesuatu kepada pembelajar, kemudian melaporkan hasilnya. Tugas-tugas yang diberikan oleh pengajar dapat dilaksanakan di rumah, sekolah, perpustakaan, laboratorium, atau di tempat lain.
I. Karakteristik Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Karakteristik dalam belajar kolaboratif adalah :
1. Siswa belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa ketergantungan dalam proses belajar, penyelesaian tugas kelompok mengharuskan semua anggota bekerja bersama.
2. Interaksi intensif secara tatap muka antar anggota kelompok.
3. Masing-masing siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang telah disepakati.
4. Siswa harus belajar dan memiliki ketrampilan komunikasi interpesonal.
5. Peran guru sebagai mediator.
6. Adanya sharing pengetahuan dan interaksi antara guru dan siswa, atau siswa dan siswa.
7. Pengelompokkan secara heterogen.
J. Kelebihan Dan Kekurangan Collaborative Learning dan Cooperative Learning
1. Kelebihan
a) Siswa belajar bermusyawarah
b) Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
c) Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
d) Dapat memupuk rasa kerja sama
e) Adanya persaingan yang sehat
2. Kelemahan
a) Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
b) Membutuhkan waktu cukup banyak.
c) Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.
d) Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai.
K. Relevansi Model Collaborative Learning dan Cooperative Learning Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Dalam pembelajaran kooperatif adanya beberapa persamaan diantara metode kooperatif dengan metode pendidikan agama islam. Secara umum dalam pembelajaran kooperatif ada beberapa unsur yang digunakan, diantaranya adalah penjelasan guru, diskusi, persentasi, turnamen, rekognesi, dan evaluasi. Hal ini semua secara secara umum juga termasuk dalam salah satu metode dan teknik pembelajaran pendidikan agama Islam yang diantaranya adalah metode sinkronis-analistis, problem solving, teknik dialog (hiwar)teknik permainan dan simulasi (game and simulation), teknik Inquiri(kerja kelompok) teknik pemberian motivasi dan peringatan, teknik korelasi dan kritik (al-tashwiq wa al tadzkir) dan teknik perlombaan.
Demikian pula teknik ceramah sebagai salah satu dari teknik pembelajaran dalam agama Islam. Yang dimaksud ceramah disini adalah materi pelajaran yang secara umum disampikan oleh guru melalui ceramah, yang kemudian dengan serius dan seksama didengarkan oleh anak didik. Dalam Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning, sebelum anak didik melakukan diskusi kelompok seorang guru terlebih dahulu menjelaskan materi pelajaran secara umum.
Dalam pendidikan agama Islam, teknik dialog atau diskusi biasanya dilakukan untuk membahas salah satu persoalan atau untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan oleh guru terhadap anak didik, diskusi ini biasanya dilakukan bukan hanya diantara sesama siswa melainkan juga dengan guru. Teknik ini dalam pendidikan agaam Islam tidak hanya digunakan dalam lembaga pendidikan formal melaikan juga di dalam lembaga-lembaga pendidikan non formal seperti pesantren, mushala, masjid dan organisasi-organisasi keIslaman.
Dari pernyataan di atas, menunujukan bahwa Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning memiliki banyak kesamaan dengan metode pembelajaran dalam pendidikan agama Islam, hanya saja dalam pola kolaborasi variasi metodenya terdapat beberapa perbedaan. Prinsip kerja sama kelompok yang digunakan dalam beberapa metode pembelajaran kooperatif seringkali digunakan pula dalam metode pembelajaran pendidikan agama Islam secara parsial, sementara dalam pembelajaran kooperatif lebih berbentuk kolaborasi dari beberapa myang sifatnya parsial tersebut, seperti penyampaian materi, tugas kelompok, kerjasama kelompok, diskusi kelompok, turnamen, game dan lainya.
Maka dari itu, hubungan pemebelajaran kolaboratif dan kooperatif dengan pendidikan Islam bukanlah sesuatu yang bertentangan, melainkan menjadi sesuatu yang relevan dan menguntungkan, karena pola pembelajaran dalam Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning aksentuasinya lebih kepada kerjasama kelompok. Sebagaimana kita ketahui bahwa kerjasama kelompok dalam pembelajaran kooperatif adalah kerja sama diantara beberapa anggota kelompok yang plural, yang berarti beragam perbedaan baik dalam aspek akademis, psikologis bahkan juga etnis.
Di sisi lain juga bisa dipahami bahwa dengan pola kerjasama yang seperti itu maka akan membantu anak didik dalam memahami materi pendidikan yang disampaikan secara lebih mandalam dan luas, karena setiap individu dalam peserta kelompok memiliki ruang kebebasan untuk menyampaikan gagasan dan pendapat mereka masing-masing. Mereka memiliki daya memahami dan mengingat materi pelajaran dengan lebih mudah, selain itu juga mereka akan bisa menyerap banyak informasi dan pendapat dari beberapa teman kelompoknya dengan referensi bacaan yang beragam. Keberagaman informasi yang didapatkan oleh peserta kelompok tersebut akan berimplikasi pada terbentuknya siswa yang memiliki paradigma dan cakrawala berfikir yang luas tentang pendiidkan agama Islam.
Dalam beberapa metode pembelajaran PAI, Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning dianggap sebagai salah satu metode yang cukup efektif untuk memudahkan anak didik memahami dan menguasai materi pelajaran, tetapi bukan hanya sebatas kelompok yang asal-asalan tanpa pertimbangan dan perencanaan yang professional, yang secara terus menerus dipantau oleh guru dengan memberikan kontrol dan motivasi terhadap kelompok agar memiliki keinginan yang kuat dan kemauan untuk melakukan sesuatu, sehingga dapat memperoleh hasil atau tujuan tertentu, yakni terbentuknya anggota kelompok yang memiliki pemahaman mendalam tentang pendidikan agama Islam.
L. List Procedure Penerapan Model Pembelajaran Kolaborative dan Kooperative Learning Dalam Materi PAI Tipe STAD
1. Kegiatan Pendahuluan
Ø Guru mengucapkan salam, dan berdoa
Ø Guru melakukan Apersepsi
Ø Guru menyampaikan kompetensi dasar, indicator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
1. Kegiatan Inti
Ø Guru dapat mengawali dengan presentasi materi tentang akhlak terpuji kepada Allah (ikhlas, taat, khauf dan taubat) terlebih dahulu, sebelum peserta didik berdiskusi; Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Didalam proses pembelajaran guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.
Ø Di kelas, guru membentuk 4 kelompok belajar yang heterogen dan mengatur tempat duduk peserta didik agar setiap anggota kelompok dapat saling bertatap muka;
Ø Guru membagi LKS yang berkaitan dengan Akhlak terpuji pada Allah (ikhlas, tata, kahauf dan taubat) pada tiap kelompok;
Ø Guru menyuruh untuk mendiskusikan LKS mengenai Akhlak Terpuji kepada Allah ( ikhlas, taat, khauf dan taubat) secara berkelompok (terjadi diskusi kelompok)
Ø Guru berkeliling untuk mengawasi kinerja kelompok;
Ø Ketua kelompok harus dapat memastikan bahwa setiap anggota kelompok telah memahami dan dapat mengerjakan LKS yang diberikan guru;
Ø Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator jika diperlukan;
Ø Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kerja kelompoknya didepan kelas secara bergiliran pada saat presentasi, kelompok lain boleh memberikan pertanyaan atau pendapat (terjadi diskusi kelas)
Ø Setelah selesai mengerjakan LKS secara tuntas, berikan kuis kepada seluruh peserta didik;
Ø Berikan penghargaan kepada peserta didik yang menjawab dengan benar, dan tidak diperkenkan untuk bekerja sama ketika siswa mengerjakan pekerjaan individu ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut, dan kemudian skor setiap individu dalam kelompok dijumlahkan sehingga akan diketahui kelompok yang memperoleh skor tertinggi, kemudian berilah pengakuan/pujian kepada prestasi tim; menetukan kategori tim dengan kategori tim yang kurang, tim yang baik, tim yang baik sekali, dan tim yang istimewa.
Ø Perhitungan Perkembangan Skor Kelompok
NO
Rata-rata Skor
Kualifikasi
1
0 < N < 5
Tim Kurang Baik (Bad Team)
2
6 < N < 15
Tim Baik (Good Team)
3
16 < N < 20
Tim Baik Sekali (Great Team)
4
21 < N < 30
Tim Istimewa (Super Team)
Ø Guru mengumumkan skor total masing-masing kelompok, dan memberikan reward atau hadiah kepada kelompok terbaik
2. Kegiatan Penutup
Ø Guru melibatkan siswa merangkum butir-butir pembelajaran dengan mengacu pada indicator hasil belajar di atas
Ø Membagikan LKS baru sebagai PR untuk dikerjakan siswa secara individual dan dibahas pada pertemuan berikutnya
Ø Memberikan nasihat
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa collaborative dan cooperative learning merupakan salah satu strategi pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar. Dalam strategi tersebut lebih memfokuskan bagaimana memaksimalkan partisipsi dan keaktifan dalam pembelajaran serta bagaimana siswa dapat mengkonstruksi sendiri ilmu pengetahuan untuk menjadi miliknya. Dalam strategi ini, peran guru cenderung menjadi fasilitator, motivator, dan membimbing menemukan alternatif pemecahan bila terjadi siswa mengalami kesulitan belajar.
Dalam Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning pengetahuan dipandang sebagai suatu konstruk social, difasilitasi melalui interaksi antar kelompok sebaya, evaluasi, dan kooperasi. Oleh sebab itu, peran pembelajaran berubah dari penyampaian informasi (transfering knowledge), “the stage on the stage” menjadi fasilitator dalam diri pembelajar untuk mengkostruksi pengetahuannya, “the guide on the side”.
DAFTAR PUSTAKA
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi. 2002. Metodologi Penelitian, Jakarta:Bumi Aksara
Hastuti, Sri. 1996. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian Proyek Penataran Guru Slip Setara D-III.
Huda, Miftahul, 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-isu Metodis dan Paradigmatis. Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Mulyasa, 2014. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya
Parwoto. 2007. Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan
Sagala, Syaiful, 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran : Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Megajar. Bandung:Alfabeta
Slavin, Robert E. 1995.Cooperative Learning : Theory, Reaserch and Practice. Second Edition. Boston : Ally and Bacon Publishers.
Rusman. 2016. Model-model pembelajaran, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
https://setetesilmu13.blogspot.co.id/2016/12/macam-macam-pembelajaran-kolaboratif.html
http://ruhcitra.wordpress.com/2008/08/09/pembelajaran-kolaboratif/
http://pembelajaran-kolaborasi.web.id/pk.php
http://garduguru.blogspot.com/2008/12/metode-kolaboratif-untuk-pembelajaran.html
Bahan diakusi:
Beberapa pakar memang membedakan antara belajar yang kooperatif dan kolaboratif. Panitz (1987) mendefinisikan belajar yang kolaboratif sebagai falsafah tentang tanggung jawab pribadi dan sikap menghormati sesama. Para pelajar bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka. Disini, guru bertindak sebagai fasilitator, yang memberikan dukungan tetapi tidak menyetir kelompok ke arah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya. Bentuk-bentuk peer-assessment (asesmen/penilaian oleh sesama murid) digunakan untuk melihat hasil prosesnya.
Sedangkan belajar kooperatif (cooperative learning) adalah konsep yang lebih luas, yang meliputi semua jenis kerja kelompok, termasuk bentuk-bentuk yang lebih dibimbing oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum, belajar kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaannya serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu murid dalam menyelesaikan permasalahan yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.
Nah, perbedaan antara kedua pendekatan (approach) ini timbul adanya fakta bahwa keduanya dikembangkan untuk pelajar-pelajar yang berbeda. Gaya kolaboratif dikembangkan untuk murid-murid yang lebih tua dengan penguasaan subyek yang lebih luas dan didasarkan pada falsafah dan pandangan tentang pengajaran efektif yang agak berbeda (Bruffee, 1995).
Dari statemen yg dikemukakan oleh para pakar diatas saya menggaris bawahi berarti seperti ada dikotomi yg membedakan antara model pembelajaran koperatif dan kolaborati tersebut, menurut temen2 apakah kedua model pembelajaran tersebut bisa diterapkan pada setiap sekolah SMP ataupun SMA yang ada di setiap daerah? dan apakah model pembelajaran tersebut bisa diterapkan pada semua siswa yg berbeda latar belakang dan sekolah, ataupun SDM yang berbeda?
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Guru sebagai agen peru bahan dalam proses pembelajaran dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogic. Tercapainya kompetensi ini ditujukan dengan beberapa indicator antara lain menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik serta mengembangkan kurikulum terkait mata pelajaran yang diampunya. Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi seorang pendidik untuk memahami konsep-konsep pmbelajaran. Konsep pembelajaran yang diketahui oleh guru selanjutnya digunakan sebagai landasan untuk mengembangkan proses pembelajaran mereka.
Menggunakan metode ceramah dalam praktek pembelajaran di kelas, seringkali tak dapat dihindari oleh para guru. Selain itu, penggunaan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran saat ini pun banyak di implementasikan oleh para guru. Diskusi kelompok dalam hal ini guru mengkondisikan para siswa untuk bekerjasama menyelesaikan suatu tugas yang disebut Collaborative Learning. Strategi ini digunakan oleh para guru dengan maksud meningkatkan keaktifan belajar para siswa melalui kerja sama di dalam kelas. Dengan kata lain penggunaan kerja sama (Collaborative Learning dan Cooperative Learning) dalam pembelajaran dapat dikatakan pula sebagai sarana penerapan nilai kerjasama atau kekompakan dalam pendidikan karakter dan budaya bangsa.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Hakekat Model Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning ?
2. Bagaimana Metode-metode dalam Coollaborative Learning dan Cooperative Learning ?
3. Bagaimana Strategi pembelajaran Coollaborative Learning dan Cooperative Learning ?
4. Bagaimana Relevansi Model Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam?
C. Tujuan Penulisan
1. Agar mengetahui Hakekat Model Pembelajaran Collaborative Learning dan Cooperative Learning
2. Agar mengetahui Metode-Metode dalam Coollaborative Learning dan Cooperative Learning
3. Agar mengetahui Strategi Pembelajaran Collaborative Learning dan Cooperative Learning
4. Agar Mengetahui Relevansi Model Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakekat Model Pembelajaran Collaborative Learning dan Cooperative Learning
1. Hakekat Collaborative Learning
Dalam sebuah artikelnya Ted Panitz (1996) menjelaskanbahwa pembelajaran kolaboratif adalah suatu filsafat personal, bukan sekedar teknik pembelajaran di kelas. Menurutnya, kolaborasi adalah filsafat interaksi dan gaya hidup yang menjadikan kerjasama sebagai suatu struktur interaksi yang dirancang sedemikian rupa guna memudahkan usaha kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Pada segala situasi, ketika sejumlah orang berada dalam suatu kelompok, kolaborasi merupakan suatu cara untuk berhubungan setiap anggota kelompok. Di dalamnya terdapat pembagian kewenangan dan penerimaan tanggung jawab di antara para anggota kelompok untuk melaksanakan tindakan kelompok.
Gokhale mendefinisikan bahwa “Collaborative learning” mengacu pada metode pengajaran di mana siswa dalam satu kelompok yang bervariasi tingkat kecakapannya bekerja sama dalam kelompok kecil yang mengarah pada tujuan bersama.
Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai tekhnologi untuk pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimalisasi perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan bertemu, yaitu :
a) Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata;
b) Menumbuhkan kesadaran berinteraksi social dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.
Ide pemblajaran kolaboratif bermula dari perspektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah buku “Democracy and Education”yang isinya bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Pemikiran Dewey yang utama tentang pendidikan (Jacob et al, 1996), adalah :
a) Siswa hendaknya aktif, learning by doing
b) Belajar hendaknya didasari motivasi intrinsik
c) Pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat tetap
d) Kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa
e) Pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur demokratis sangat penting.
f) Kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata dan bertujuan mengembangkan dunia tersebut.
Pembelajaran kolaboratif merujuk pada berbagai macam metode pembelajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pelajaran. Model pembelajaran ini mengetengahkan realita kehidupan masyarakat yang dirasakan dan dialami oleh siswa dalam kesehariannya, dengan bentuk yang disederhanakan dalam kehidupan kelas. Model pembelajaran ini memandang bahwa pemahaman materi dalam belajar bukan semata-mata harus diperoleh dari guru melainkan juga dari pihak siswa yang terlibat dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran ini termasuk kepada actieve learning dan student centreddimana peserta didik memiliki ruang bersama untuk berbagi melakukan gesekan-transformasi ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan peserta didik yang lain.
2. Hakekat Cooperative Learning
Slavin(1991:73) mendefinisikan “Cooperative learning methods share the idea that students work together ti learn and are responsible for one another’s learning as well as their own”yang artinya merode pembelajaran koperatif yakni berbagi gagasan sehingga siswa bekerja sama untuk belajar dan bertganggung jawab satu sama lain belajar sebaik mereka sendiri”
Selain Cohen (1994:3) mengatakan sebagai berikut: “Cooperative learning will be defined as student working together in a group small enough that everyone can participate on collective tas wihout direct and immediate supervision of the teacher”artinya pembelajaran kooperatif didefinisikan sebagai siswa yang bekerja sama dalam kelompok kecil sehingga setiap orang dapat berpartisipasi dalam tugas kolektif yang telah ada jelas ditugaskan. Selain itu, siswa diharapkan untuk melaksanakan tugas mereka tanpa pengawasan langsung dan langsung dari guru”.
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning)Rusman (2016:203) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Pada hakikatnya cooperative learningsama dengan kerja kelompok. Oleh karena itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam cooperative learning karena mereka beranggapan telah biasa melakukan pembelajaran cooperative learning dalam bentuk belajar kelompok. Walaupun sebenarnya tidak semua belajar kelompok dikatakan cooperative learning, seperti dijelaskan Abdulhak (2001:19-20) bahwa “pembelajaran cooperative dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama diantara peserta belajar itu sendiri.”
Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dan siswa, siswa dengan siswa dan siswa denga guru (multi way traffic communication).
Pembelajaran cooperative adalah srtategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati, 2002:25). Dalam system belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama denga anggota lainnya. Dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar.
Jhon Myers(1991) merujuk pada kamus untuk menjelaskan definisi collaboration yang berasal dari akar kata Latin dengan makna yang menitikberatkan proses kerjasama sedangkan kata cooperative berfokus pada produk kerjasamanya itu.
Jelaslah bahwa pembelajaran kolaboratif lebih dari pada sekedar kooperatif. Jika pembelajaran kooperatif merupakan teknik untuk mencapai hasil tertentu secara lebih cepat, lebih baik, setiap orang mengerjakan bagian yang lebih sedikit dibandingkan jika semua dikerjakannya sendiri, maka pembelajaran kolaboratif mencakup keseluruhan proses pembelajaran, siswa saling mengajar sesamanya. Bahkan bukan tidak mungkin, ada kalanya siswa mengajar gurunya juga.
Pembelajaran kolaboratif memudahkan para siswa belajar dan bekerja bersama, saling menyumbangkan pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara kelompok maupun individu. Berbeda dengan pembelajaran konvensional, tekanan utama pembelajaran kolaboratif maupun kooperatif adalah “belajar bersama”.
Tetapi dalam perspektif ini tidak semua “belajar bersama” dapat digolongkan sebagai belajar kooperatif, apalagi kolaboratif. Bila para siswa di dalam suatu pencapaian hasil belajar secara kelompok maupun individu kelompok itu tak dapat digolongkan sebagai kelompok pembelajaran kolaboratif. Kelompok itu mungkin merupakan kelompok pembelajaran kooperatif atau bahkan sekadar belajar bersama-sama. Inti pembelajaran kolaboratif adalah bahwa para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Antar anggota kelompok saling belajar dan membelajarkan untuk mencapai tujuan bersama.keberhasilan kelompok adalah keberhasilan individu dan demikian pula sebaliknya.
B. Metode- metode Dalam Pembelajaran Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Jika dilihat dari kerangka kerja pengajaran, model pembelajaran Kolaboratif dan Koperatif termasuk kedalam model pembelajaran interaksi sosial yang lebih menitikberatkan pada kerjasama dengan anggota pembelajar yang lainnya.
Metode pembelajaran merupakan suatu cara yang digunakan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat berbagai metode yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Guru harus memahami berbagai metode pembelajaran agar guru dapat memilih dan menggunakan metode yang tepat sesuai dengan materi dan tujuan pembelajarannya. Adapun metode yang dapat digunakan dalam model pembelajaran ini diantaranya:
1. Diskusi
Diskusi merupakan komunikasi seseorang berbicara satu dengan yang lain, saling berbagi gagasan dan pendapat. Menurut Suryosubroto (1997:179), adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang bergabung dalam suatu kelompok, untuk saling bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah. Metode diskusi mendorong siswa untuk berdialog dan bertukar pendapat, dengan tujuan agar siswa dapat terdorong untuk berpartisipasi secara optimal, tanpa ada aturan-aturan yang terlalu keras, namun tetap harus mengikuti etika yang disepakati bersama.
2. Debat
Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil pro dan dua orang mengambil kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.
Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.
Pada dasarnya, agar semua model brhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap yang diharapkan pembelajran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung untuk menyelesaikan tugas. Keterampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok.
3. Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
4. Cooperative learning
Menurut Agus Suprijono (2011:54), “Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru”. Beberapa keuntungannya antara lain : mengajarkan siswa menjadi percaya pada guru, kemampuan untuk berfikir, mencari informasi dari sumber lain dan belajar dari siswa lain, mendorong siswa untuk mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan dengan ide temannya, dan membantu siswa belajar menghormati siswa yang pintar dan siswa yang lemah, juga menerima perbedaan ini.
5. Kelompok Tutorial
Metode Tutorial adalah suatu proses pengelolaan pembelajaran yang dilakukan melalui proses bimbingan yang diberikan /dilakukan oleh guru kepada siswa baik secar perorangan atau kelompok kecil siswa. Metode ini banyak sekali digunakan, khususnya pada saat siswa sudah terlibat dalam kerja kelompok.
Tutorial juga merupakan bantuan bimbingan belajar yang bersifat akademik oleh tutor kepada siswa untuk membantu kelancaran proses belajar mandiri siswa secara perseorangan atau kelompok berkaitan dengan materi ajar.
6. Bermain Peran (Role Playing)
Bermain peran atau sosiodrama adalah metode mengajar yang dalam pelaksanaanya peserta didik mendapat tugas dari guru untuk mendramatisasikan suatu situasi social yang mengandung suatu problem, agar peserta didik dapat memecahkan masalah yang muncul dari suatu situasi social (Sagala, 2010:213)
Senada dengna Sagala, Huda (2014:209) berpendapat bahwa, role playingadalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankan diri sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini biasanya dilakukan oleh lebih dari satu orang, bergantung pada apa yang diperankan. Pada strategi role playing, titik tekannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indra ke dalam suatu situasi permasalahan yang secara nyata dihadapi. Siswa diperlakukan sebagai subjek pembelajaran yang secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu.
Strategi role playing juga diorganisasikan berdasarkan kelompok-kelompok siswa yang heterogen. Masing-masing kelompok memperagakan/menampilkan scenario yang telah disiapkan guru, siswa diberi kebebasan berimprovisasi namun masih dalam batas-batas scenario dari guru.
7. Wawancara
Metode Interview atau wawancara dalam proses pembelajaran seringkali disebut dengan metode wawancara. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, wawancara merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawanaacara adalah untuk mendapatkan informasi dimana sang pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai.
Namun, metode interview dalam pembelajaran berbeda dengan metode interview sebagai instrumen penelitian. Di dalam pembelajaran, sebelum memberikan pertanyaan, terlebih dahulu guru menyampaikan isu yang dapat memunculkan beragam opini. Sehingga murid dapat menggali dan menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan dari opini tersebut. Metode ini termasuk dalam model pembelajaran Koopratif.
8. Tanya Jawab
Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, atau dapat pula dari siswa kepada guru atau bahkan dari siswa kepada siswa seperti dalam kegiatan diskusi. Metode Tanya jawab menawarkan keterampilan dalam mengkaji problem pendidikan dengan cara diskusi sebagai solusi menghidupkan proses pembelajaran.
C. Strategi Pembelajaran Dalam Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan menurut Gerlach dan Ely menjelaskan bahwa srtategi pembelajran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa srtategi pembelajaran dimaksud meliputi; sifat, lingkup, dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik.
Adapun secara umum strategi pengajaran terbagi menjadi 5 macam diantaranya;
1. Pembelajaran Langsung (direct instruction)
2. Pembelajaran Tidak Langsung (indirect instruction)
3. Pembelajaran Interaktif (interactive instruction)
4. Belajar Melalui Pengalaman (experiential learning)
5. Belajar Mandiri (independent study)
Model pembelajaran collaborative learning dan cooperative learning termasuk kedalam strategi pembelajaran interaktif dimana dalam strategi ini merujuk kepada bentuk diskusi dan saling berbagi diantara peserta didik, strategi pembelajaran interaktif dikembangkan dalam rentang pengelompokkan dan metode-metode interaktif, serta di dalamnya terdapat bentuk-bentuk diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau pengerjaan tugas berkelompok, dan kerjasama siswa secara berpasangan.
Menurut Piaget dan Vigotsky, strategi pembelajaran kolaboratif didukung oleh adanya tiga teori, yaitu :
1. Teori Kognitif
Teori ini berkkaitan dengan terjadinya pertukaran konsep antar anggota kelompok pada pembelajaran kolaboratif sehingga dalam suatu kelompok akan terjadi proses trfansformasi ilmu pengetahuan pada setiap anggota.
2. Teori Konstruktivisme Sosial
Pada teori ini terlihat adanya interaksi antar anggota yang akan membantu perkembangan individu dan meningkatkan sikap saling menghormati pendapat semua anggota kelompok.
3. Teori Motivasi
Teori ini teraplikasi dalam struktur pemebelajaran kolaboratif karena pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif bagi siswa untuk belajar, menambah keberanian anggota untuk memberi pendapat, dan menciptakan situasi saling memerlukan pada seluruh anggota dalam kelompok.
Menurut Piaget Salah satu contoh strategi pembelajaran kolaboratif adalah card sort. Strategi ini digunakan untuk mengjarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang obyek, atau mengulangi informasi. Prosedurnya sebagai berikut :
1. Berilah siswa kartu indeks yang memberikan informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
2. Mintalah siswa untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan kategori yang sama.
3. Biarkan siswa yang kartu kategorinya sama menyajikan sendiri kepada yang lainnya.
4. Selagi masing-masing kategori dipresentasikan, buatlah point dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.
D. Macam-Macam Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:
1. Learning Together
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
2. Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
3. Group Investigation (GI)
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
4. Academic-Constructive Controversy (AC)
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
5. Jigsaw Proscedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
6. Student Team Achievement Divisions (STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
7. Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
8. Team Accelerated Instruction (TAI)
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
9. Cooperative Learning Stuctures (CLS)
Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
10. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.
E. Keterampilan dalam Collaborative Learning dan Cooperative Learning
1. Pembentukan kelompok
2. Bekerja dalam satu kelompok
3. Pemecahan masalah kelompok
4. Manajemen perbedaan kelompok
F. Tahapan dalam Mengembangkan Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Menurut Reid (2004) dalam menggembangkan collaborative learning ada lima tahapan yang harus dilakukan, yaitu:
1. Engagement
Pada tahap ini, pengajar melakukan penilaian terhadap kemampuan, minat, bakat dan kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Lalu, siswa dikelompokkan yang di dalamnya terdapat siswa terpandai, siswa sedang, dan siswa yang rendah prestasinya.
2. Exploration
Setelah dilakukan pengelompokkan, lalu pengajar mulai memberi tugas, misalnya dengan memberi permasalahan agar dipecahkan oleh kelompok tersebut. Dengan masalah yang diperoleh, semua anggota kelompok harus berusaha untuk menyumbangkan kemampuan berupa ilmu, pendapat ataupun gagasannya.
3. Transformation
Dari perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa, lalu setiap anggota saling bertukar pikiran dan melakukan diskusi kelompok. Dengan begitu, siswa yang semula mempunyai prestasi rendah, lama kelamaan akan dapat menaikkan prestasinya karena adanya proses transformasi dari siswa yang memiliki prestasi tinggi kepada siswa yang prestasinya rendah.
4. Presentation
Setelah selesai melakukan diskusi dan menyusun laporan, lalu setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Pada saat salah satu kelompok melakukan presentasi, maka kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi.
5. Reflection
Setelah selesai melakukan presentasi, lalu terjadi proses Tanya-jawab antar kelompok. Kelompok yang melakukan presentasi akan menerima pertanyaan, tanggapan ataupun sanggahan dari kelompok lain. Dengan pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain, anggota kelompok harus bekerjasama secara kompak untuk menanggapi dengan baik.
G. Elemen Dalam Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Brandt (2004) menekankan adanya lima elemen dasar yang dibutuhkan agar kerjasama dalam proses pembelajaran dapat sukses, yaitu :
1. Possitive interdependence (saling ketergantungan positif)
Yaitu siswa harus percaya bahwa mereka adalah proses belajar bersama dan mereka peduli pada belajar siswa yang lain. Dalam pembelajaran ini setiap siswa harus merasa bahwa ia bergantung secara positif dan terikat dengan antarsesama anggota kelompoknya dengan tanggung jawab menguasai bahan pelajaran dan memastikan bahwa semua anggota kelompoknya pun menguasainya. Mereka merasa tidak akan sukses bila siswa lain juga tidak sukses.
2. Verbal, face to face interaction (interaksi langsung antar siswa)
Yaitu hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan adanya komunikasi verbal antarsiswa yang didukung oleh saling ketergantungan positif. Siswa harus saling berhadapan dan saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar. Siswa juga harus menjelaskan, berargumen, elaborasi, dan terikat terhadap apa yang mereka pelajari sekarang untuk mengikat apa yang mereka pelajari sebelumnya.
3. Individual accountability (pertanggungjawaban individu)
Yaitu setiap kelompok harus realis bahwa mereka harus belajar. Agar dalam suatu kelompok siswa dapat menyumbang, mendukung dan membantu satu sama lain, setiap siswa dituntut harus menguasai materi yang dijadikan pokok bahasan. Dengan demikian setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari pokok bahasan dan bertanggung jawab pula terhadap hasil belajar kelompok.
4. Social skills (keterampilan berkolaborasi)
Yaitu keterampilan sosial siswa sangat penting dalam pembelajaran. Siswa dituntut mempunyai keterampilan berkolaborasi, sehingga dalam kelompok tercipta interaksi yang dinamis untuk saling belajar dan membelajarkan sebagai bagian dari proses belajar kolaboratif. Siswa harus belajar dan diajar kepemimpian, komunikasi, kepercayaan, membangun dan keterampilan dalam memecahkan konflik.
5. Group processing (keefektifan proses kelompok)
Yaitu kelompok harus mampu menilai kebaikan apa yang mereka kerjakan secara bersama dan bagaimana mereka dapat melakukan secara lebih baik. Siswa memproses keefektifan kelompok belajarnya dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak serta membuat keputusan-keputusan tindakan yang dapat dilanjutkan atau yang perlu diubah.
H. Pola Pengelompokkan Dalam Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Tiga pola pengelompokkan, yaitu:
1. The two-person group (tutoring)
Yaitu satu orang ditugasi mengajar yang lain. Jadi, siswa dapat berperan sebagai pengajar yang disebut tutor, sedangkan siswa yang lain disebut tutee.
2. The small group (interactive recitation; discussion)
Adalah cara penyampaian baha pelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan masalah.
3. Small or large group (recitation)
Yaitu suatu metode mengajar dan pengajar memberikan tugas untuk mempelajari sesuatu kepada pembelajar, kemudian melaporkan hasilnya. Tugas-tugas yang diberikan oleh pengajar dapat dilaksanakan di rumah, sekolah, perpustakaan, laboratorium, atau di tempat lain.
I. Karakteristik Collaborative Learning dan Cooperative Learning
Karakteristik dalam belajar kolaboratif adalah :
1. Siswa belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa ketergantungan dalam proses belajar, penyelesaian tugas kelompok mengharuskan semua anggota bekerja bersama.
2. Interaksi intensif secara tatap muka antar anggota kelompok.
3. Masing-masing siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang telah disepakati.
4. Siswa harus belajar dan memiliki ketrampilan komunikasi interpesonal.
5. Peran guru sebagai mediator.
6. Adanya sharing pengetahuan dan interaksi antara guru dan siswa, atau siswa dan siswa.
7. Pengelompokkan secara heterogen.
J. Kelebihan Dan Kekurangan Collaborative Learning dan Cooperative Learning
1. Kelebihan
a) Siswa belajar bermusyawarah
b) Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
c) Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
d) Dapat memupuk rasa kerja sama
e) Adanya persaingan yang sehat
2. Kelemahan
a) Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
b) Membutuhkan waktu cukup banyak.
c) Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.
d) Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai.
K. Relevansi Model Collaborative Learning dan Cooperative Learning Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Dalam pembelajaran kooperatif adanya beberapa persamaan diantara metode kooperatif dengan metode pendidikan agama islam. Secara umum dalam pembelajaran kooperatif ada beberapa unsur yang digunakan, diantaranya adalah penjelasan guru, diskusi, persentasi, turnamen, rekognesi, dan evaluasi. Hal ini semua secara secara umum juga termasuk dalam salah satu metode dan teknik pembelajaran pendidikan agama Islam yang diantaranya adalah metode sinkronis-analistis, problem solving, teknik dialog (hiwar)teknik permainan dan simulasi (game and simulation), teknik Inquiri(kerja kelompok) teknik pemberian motivasi dan peringatan, teknik korelasi dan kritik (al-tashwiq wa al tadzkir) dan teknik perlombaan.
Demikian pula teknik ceramah sebagai salah satu dari teknik pembelajaran dalam agama Islam. Yang dimaksud ceramah disini adalah materi pelajaran yang secara umum disampikan oleh guru melalui ceramah, yang kemudian dengan serius dan seksama didengarkan oleh anak didik. Dalam Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning, sebelum anak didik melakukan diskusi kelompok seorang guru terlebih dahulu menjelaskan materi pelajaran secara umum.
Dalam pendidikan agama Islam, teknik dialog atau diskusi biasanya dilakukan untuk membahas salah satu persoalan atau untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan oleh guru terhadap anak didik, diskusi ini biasanya dilakukan bukan hanya diantara sesama siswa melainkan juga dengan guru. Teknik ini dalam pendidikan agaam Islam tidak hanya digunakan dalam lembaga pendidikan formal melaikan juga di dalam lembaga-lembaga pendidikan non formal seperti pesantren, mushala, masjid dan organisasi-organisasi keIslaman.
Dari pernyataan di atas, menunujukan bahwa Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning memiliki banyak kesamaan dengan metode pembelajaran dalam pendidikan agama Islam, hanya saja dalam pola kolaborasi variasi metodenya terdapat beberapa perbedaan. Prinsip kerja sama kelompok yang digunakan dalam beberapa metode pembelajaran kooperatif seringkali digunakan pula dalam metode pembelajaran pendidikan agama Islam secara parsial, sementara dalam pembelajaran kooperatif lebih berbentuk kolaborasi dari beberapa myang sifatnya parsial tersebut, seperti penyampaian materi, tugas kelompok, kerjasama kelompok, diskusi kelompok, turnamen, game dan lainya.
Maka dari itu, hubungan pemebelajaran kolaboratif dan kooperatif dengan pendidikan Islam bukanlah sesuatu yang bertentangan, melainkan menjadi sesuatu yang relevan dan menguntungkan, karena pola pembelajaran dalam Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning aksentuasinya lebih kepada kerjasama kelompok. Sebagaimana kita ketahui bahwa kerjasama kelompok dalam pembelajaran kooperatif adalah kerja sama diantara beberapa anggota kelompok yang plural, yang berarti beragam perbedaan baik dalam aspek akademis, psikologis bahkan juga etnis.
Di sisi lain juga bisa dipahami bahwa dengan pola kerjasama yang seperti itu maka akan membantu anak didik dalam memahami materi pendidikan yang disampaikan secara lebih mandalam dan luas, karena setiap individu dalam peserta kelompok memiliki ruang kebebasan untuk menyampaikan gagasan dan pendapat mereka masing-masing. Mereka memiliki daya memahami dan mengingat materi pelajaran dengan lebih mudah, selain itu juga mereka akan bisa menyerap banyak informasi dan pendapat dari beberapa teman kelompoknya dengan referensi bacaan yang beragam. Keberagaman informasi yang didapatkan oleh peserta kelompok tersebut akan berimplikasi pada terbentuknya siswa yang memiliki paradigma dan cakrawala berfikir yang luas tentang pendiidkan agama Islam.
Dalam beberapa metode pembelajaran PAI, Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning dianggap sebagai salah satu metode yang cukup efektif untuk memudahkan anak didik memahami dan menguasai materi pelajaran, tetapi bukan hanya sebatas kelompok yang asal-asalan tanpa pertimbangan dan perencanaan yang professional, yang secara terus menerus dipantau oleh guru dengan memberikan kontrol dan motivasi terhadap kelompok agar memiliki keinginan yang kuat dan kemauan untuk melakukan sesuatu, sehingga dapat memperoleh hasil atau tujuan tertentu, yakni terbentuknya anggota kelompok yang memiliki pemahaman mendalam tentang pendidikan agama Islam.
L. List Procedure Penerapan Model Pembelajaran Kolaborative dan Kooperative Learning Dalam Materi PAI Tipe STAD
1. Kegiatan Pendahuluan
Ø Guru mengucapkan salam, dan berdoa
Ø Guru melakukan Apersepsi
Ø Guru menyampaikan kompetensi dasar, indicator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
1. Kegiatan Inti
Ø Guru dapat mengawali dengan presentasi materi tentang akhlak terpuji kepada Allah (ikhlas, taat, khauf dan taubat) terlebih dahulu, sebelum peserta didik berdiskusi; Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Didalam proses pembelajaran guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.
Ø Di kelas, guru membentuk 4 kelompok belajar yang heterogen dan mengatur tempat duduk peserta didik agar setiap anggota kelompok dapat saling bertatap muka;
Ø Guru membagi LKS yang berkaitan dengan Akhlak terpuji pada Allah (ikhlas, tata, kahauf dan taubat) pada tiap kelompok;
Ø Guru menyuruh untuk mendiskusikan LKS mengenai Akhlak Terpuji kepada Allah ( ikhlas, taat, khauf dan taubat) secara berkelompok (terjadi diskusi kelompok)
Ø Guru berkeliling untuk mengawasi kinerja kelompok;
Ø Ketua kelompok harus dapat memastikan bahwa setiap anggota kelompok telah memahami dan dapat mengerjakan LKS yang diberikan guru;
Ø Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator jika diperlukan;
Ø Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kerja kelompoknya didepan kelas secara bergiliran pada saat presentasi, kelompok lain boleh memberikan pertanyaan atau pendapat (terjadi diskusi kelas)
Ø Setelah selesai mengerjakan LKS secara tuntas, berikan kuis kepada seluruh peserta didik;
Ø Berikan penghargaan kepada peserta didik yang menjawab dengan benar, dan tidak diperkenkan untuk bekerja sama ketika siswa mengerjakan pekerjaan individu ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut, dan kemudian skor setiap individu dalam kelompok dijumlahkan sehingga akan diketahui kelompok yang memperoleh skor tertinggi, kemudian berilah pengakuan/pujian kepada prestasi tim; menetukan kategori tim dengan kategori tim yang kurang, tim yang baik, tim yang baik sekali, dan tim yang istimewa.
Ø Perhitungan Perkembangan Skor Kelompok
NO
Rata-rata Skor
Kualifikasi
1
0 < N < 5
Tim Kurang Baik (Bad Team)
2
6 < N < 15
Tim Baik (Good Team)
3
16 < N < 20
Tim Baik Sekali (Great Team)
4
21 < N < 30
Tim Istimewa (Super Team)
Ø Guru mengumumkan skor total masing-masing kelompok, dan memberikan reward atau hadiah kepada kelompok terbaik
2. Kegiatan Penutup
Ø Guru melibatkan siswa merangkum butir-butir pembelajaran dengan mengacu pada indicator hasil belajar di atas
Ø Membagikan LKS baru sebagai PR untuk dikerjakan siswa secara individual dan dibahas pada pertemuan berikutnya
Ø Memberikan nasihat
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa collaborative dan cooperative learning merupakan salah satu strategi pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar. Dalam strategi tersebut lebih memfokuskan bagaimana memaksimalkan partisipsi dan keaktifan dalam pembelajaran serta bagaimana siswa dapat mengkonstruksi sendiri ilmu pengetahuan untuk menjadi miliknya. Dalam strategi ini, peran guru cenderung menjadi fasilitator, motivator, dan membimbing menemukan alternatif pemecahan bila terjadi siswa mengalami kesulitan belajar.
Dalam Collaborative Learning dan Model Cooperative Learning pengetahuan dipandang sebagai suatu konstruk social, difasilitasi melalui interaksi antar kelompok sebaya, evaluasi, dan kooperasi. Oleh sebab itu, peran pembelajaran berubah dari penyampaian informasi (transfering knowledge), “the stage on the stage” menjadi fasilitator dalam diri pembelajar untuk mengkostruksi pengetahuannya, “the guide on the side”.
DAFTAR PUSTAKA
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi. 2002. Metodologi Penelitian, Jakarta:Bumi Aksara
Hastuti, Sri. 1996. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian Proyek Penataran Guru Slip Setara D-III.
Huda, Miftahul, 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-isu Metodis dan Paradigmatis. Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Mulyasa, 2014. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya
Parwoto. 2007. Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan
Sagala, Syaiful, 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran : Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Megajar. Bandung:Alfabeta
Slavin, Robert E. 1995.Cooperative Learning : Theory, Reaserch and Practice. Second Edition. Boston : Ally and Bacon Publishers.
Rusman. 2016. Model-model pembelajaran, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
https://setetesilmu13.blogspot.co.id/2016/12/macam-macam-pembelajaran-kolaboratif.html
http://ruhcitra.wordpress.com/2008/08/09/pembelajaran-kolaboratif/
http://pembelajaran-kolaborasi.web.id/pk.php
http://garduguru.blogspot.com/2008/12/metode-kolaboratif-untuk-pembelajaran.html
Bahan diakusi:
Beberapa pakar memang membedakan antara belajar yang kooperatif dan kolaboratif. Panitz (1987) mendefinisikan belajar yang kolaboratif sebagai falsafah tentang tanggung jawab pribadi dan sikap menghormati sesama. Para pelajar bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka. Disini, guru bertindak sebagai fasilitator, yang memberikan dukungan tetapi tidak menyetir kelompok ke arah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya. Bentuk-bentuk peer-assessment (asesmen/penilaian oleh sesama murid) digunakan untuk melihat hasil prosesnya.
Sedangkan belajar kooperatif (cooperative learning) adalah konsep yang lebih luas, yang meliputi semua jenis kerja kelompok, termasuk bentuk-bentuk yang lebih dibimbing oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum, belajar kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaannya serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu murid dalam menyelesaikan permasalahan yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.
Nah, perbedaan antara kedua pendekatan (approach) ini timbul adanya fakta bahwa keduanya dikembangkan untuk pelajar-pelajar yang berbeda. Gaya kolaboratif dikembangkan untuk murid-murid yang lebih tua dengan penguasaan subyek yang lebih luas dan didasarkan pada falsafah dan pandangan tentang pengajaran efektif yang agak berbeda (Bruffee, 1995).
Dari statemen yg dikemukakan oleh para pakar diatas saya menggaris bawahi berarti seperti ada dikotomi yg membedakan antara model pembelajaran koperatif dan kolaborati tersebut, menurut temen2 apakah kedua model pembelajaran tersebut bisa diterapkan pada setiap sekolah SMP ataupun SMA yang ada di setiap daerah? dan apakah model pembelajaran tersebut bisa diterapkan pada semua siswa yg berbeda latar belakang dan sekolah, ataupun SDM yang berbeda?
diatas ada beberapa kelemahan dari model ini, lalu tindakan apa yang dapat dilakukan guru agar kelemahan dia atas dapat tertutupin?
BalasHapusseperti penambahan inovasi.